Itinerary, Buat Gak Yaaa?


Jadi, aku sendiri mengkategorikan liburan menjadi dua : Liburan Rodi dan Liburan Santai, walau pada dasarnya liburan itu selalu santai dan menyenangkan ya.. tapi maksud aku mengkategorikan liburan tersebut adalah berdasarkan frekuensi kegiatannya.

Liburan Rodi adalah liburan dengan itinerary padat dan ketat dimana 1 hari kita bisa mengunjungi 3-5 tempat. Setelah seharian pergi kaki seperti mau copot dan betis cekot-cekot, dan setelah selesai liburan badan pegal linu dan usus seperti buntu *okey yang terakhir ini tampak lebay*. Tapi hati tetap senang dong tentunya! Liburan Rodi ini sepertinya harus kita lakukan apabila berniat ke banyak tempat dalam satu waktu. Misal saat kami pergi ke Bangkok. Karena baru pertama kali kesana kita pengen ke Grand Palace, Chatuchak, Dinner cruise di Chao Phraya River, MBK mall, Madame Tussauds, Siam Ocean World, dan masih banyak lagi yang ingin dikunjungi padahal waktunya hanya 4 hari. Kalau begini itinerary sudah pasti harus dibuat demi efesiensi waktu dan efektifitas kegiatan berdasar lokasi.


Liburan Santai adalah liburan tanpa itinerary (okey mungkin ada 1-2 kegiatan yang sebenarnya sudah terpikir) dimana kita bebas dari segala jadwal yang kita buat sendiri. Misal sewaktu kita pergi ke Bali, suami bertanya “Habis ini kita kemana Ma?” dan saya menjawab “Wah kemana yah, maunya ngapain?” lalu tiba-tiba Zahra menginterupsi “Katanya mau belenang! (berenang, red)”. Jadi yang awalnya kita mau ajak ke Taman Safari tiba-tiba berubah jadi berenang dulu, lalu tidur siang dulu, baru ke Taman Safari. Atau sewaktu kita ke Phuket kita pergi benar-benar tanpa rencana. Padahal kita baru pertama kali ke Phuket. Yang kita lakukan hanya mampir ke tour lokal lalu sewa one day tour. Sisanya hanya belanja bermodal nanya ke supir tuk tuk atau supir taxi.




Dari pengalaman-pengalaman tersebut aku bisa menyimpulkan :

Liburan dengan itinerary


(+) Positif :
  • Dapat mengunjungi beberapa lokasi dalam satu hari dengan pengaturan waktu dan lokasi yang baik. 
  • Waktu lebih efisien 
  • Karena bikin itin harus survey, jadi kita tau dengan detail bagaimana cara untuk mencapai lokasi tersebut, apakah dengan bus/kereta/taxi. 
  • Dapat lebih merencanakan jumlah pengeluaran biaya. 
  • Terhindar dari salah kostum. Karena kita sudah survey sebelumnya bahwa misal untuk ke tempat tertentu (terutama tempat ibadah) tidak diperbolehkan memakai pakaian agak terbuka (no tank top or short pants).
·    (-) Negatif :

Semua terasa begitu kaku karena kita harus ikuti kegiatan sesuai itin. Walau mungkin kita bisa bersikap fleksible tapi pasti ada pengaruh pada itin selanjutnya yang pada akhirnya sedikit banyak akan meleset dari rencana

Liburan tanpa itinerary


(+) Positif : 

Santai tanpa jadwal. Bisa menikmati liburan yang sebenar-benarnya (versi gue lho ya hehe). Lebih fleksible. Kita bisa sepenuhnya mengikuti jadwal anak.


(-) Negatif :

Jadi terlewat tempat yang bagus untuk dikunjungi. Misal kemarin waktu ke Phuket baru tau ternyata Phi Phi island ternyata bagus bangeeet. Karena waktu itu aku pikir cukup ke James Bond island aja dan beberapa pulau sekitar jadi saya skip, dan sampai Jakarta aku cukup nyesal juga. Kesempatan kadang tidak datang dua kali.

Dengan atau tanpa itinerary liburan kami tetap terasa menyenangkan, tapi mungkin jika harus memilih sepertinya aku lebih cenderung membuat itinerary detail. Kalo kamu gimana? 😀

 

Share this post

6 replies on “Itinerary, Buat Gak Yaaa?

  • Anonymous

    Kalo ke tempat yang baru pertama kali dikunjungi merasa butuh itinerary. Tapi kalo yang udah beberapa kali, kadang males bikin, hehehe.

    Waktu ke Eropa pas musim semi lalu, setelah 12 hari keliling Paris-Barcelona-Roma dengan itinerary, akhirnya pas 6 hari terakhir di Amsterdam capek dan memutuskan nggak pake itinerary. Bener banget jadinya santai dan seru, nggak dikejar-kejar tapi akhirnya nyesel karena ada aja yang kelewat atau jadinya cuma sempet sebentar dikunjungi, hehe.

    Jadi kalo aku, tetep butuh bikin itinerary (biasa deh OCD, hehe) tapi dibikin fleksibel dan nggak ambisius karena ngikutin mood dan stamina anak juga.

    Anyway, baru nemu nih blog-nya, seru juga! Thanks for sharing 😉

    Reply
  • Anonymous

    aku pasti butuh itinerary. alasannya biar bisa nyesuain bajunya. huahahaha.. cemen yak? Tapi ini penting. Apalagi kalo perginya ke 2 tempat dengan outfit berbanding terbalik. Misalnya kayak waktu trip ke Bromo. Tapi ada rafting dan main ke pulau sempu juga. Jadi selain bawa jaket + sepatu + kaos kaki dan perabotan perang lainnya, juga kudu bawa baju renang + snorkle gear.

    Tempat yang ga pake itinerary ituh kalo ke Bali. Soalnya ke Bali sekarang cuma buat leyeh2 🙂

    Btw, i love searching!
    jadi bikin itin itu cuma alasan 🙂 🙂 🙂

    Reply
  • Darina Danil

    eh ga cemen kok jeng tapi super penting. Kalo saltum kan gak kece hahaha.. dan takut masuk angin juga pastinya ky kmrn aku ke kaliurang malah pake baju tipis.. salah deh Zzzzzz… (pdhl udah pake itin, jadi salah siapa? salah saya? salah temen-temen saya? hahaha)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.