Labuan Bajo : A National Treasure

Sebelum cerita, mau nanya dulu nih siapa yang gak tau dimana letak desa Labuan Bajo?

Okay, aku ngacung. Karena serius sehari sebelum berangkat aku gak tau Labuan Bajo itu dimana. Setelah diinget-inget mungkin karena itu Guru Geografi jaman SMA sering nodong untuk jawab pertanyaan di kelas #bukanmuridteladan

Saat itu aku ngga tau kalau ternyata aku bakal ke pulau paling KEREN yang pernah aku datangi seumur hidup (note : pernah ke pulau Bali, Karimun Jawa dan tentu saja pulau kapuk aka kasur).

Sejak kunjungan Pak SBY tahun 2013 lalu, Labuan Bajo memang mengalami peningkatan jumlah turis. Karena itu infrastruktur pun terus dibangun sampai sekarang. Bangun BTS (tower untuk infrastruktur telekomunikasi), hotel, airport sampai dermaga. Jadi jangan mikir desa tertinggal banget karena airport dan dermaganya sekarang bagus lho. Hotel berbintang pun ada.

pic from kileetravels.com

How To Get There

Aku langsung terbang dengan Garuda Indonesia dari Jakarta ke Labuan. Tiket berangkat sekitar 1,7 juta sekali jalan. Yang istimewa adalah tipe pesawatnya yang nggak biasa, pesawat kecil tapi canggih, tipe Bombardier dengan kecepatan yang sama dengan tipe pesawat Boeing sekitar 800kPh, tapi seat-nya 2-2. Sempet deg-deg-an sih jujur, baru kali ini nih naik pesawat sekecil ini tapi Garuda emang jaminan rasa aman πŸ˜€

Sampai di Bandara kita langsung menuju hotel dan menikmati sunset di Atlantis On The Rock by Plataran. Karena ini business trip, jadi kita kerja lembur dulu besok, baru lusa jalan-jalan. Seperti kata pepatah, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian πŸ˜›

Oiya sebelum ke Plataran kita mampir sebentar di bukit Sylvia untuk menikmati view pulau dari bukit. Segitu aja aku udah dapet that Sound-of-music moment. THAT moment when you suddenly sing “The hills are alive… with the Sound of Music…” (if you know what I mean).

 
Rela banget kerja disini terus. Dari hotel aja langit pas sunset baguuuuus banget. Dan kalau siang juga viewnya langsung laut.

It’s Time for Island Hopping

Berhubung ngga ada persiapan apa-apa, aku cuma bawa baju seadanya. Gak bawa baju renang, gak bawa baju lebihan satupun, cuma bawa 1 koper cabin sama tas laptop. Untungnya bawa SPF yang waterproof, rasanya itu udah cukup banget buat gue. Jadi dengan berbekal cardigan hitam dan jilbab bekas pake kemaren, mari kita snorkeling! Karena terlalu rugi untuk dilewatkan.

Kita naik speed boat, sewanya sekitar 1,6juta/orang untuk ke 4 pulau seharian. Jarak dari satu pulau ke pulau lain cukup deket kok. Lupakan wifi ya, gak bakal ada. Etapi 4G Telkomsel sih tetep ada dong di pulau komodo dan sekitarnya πŸ˜› #iklanterselubung

Pulau Padar

Kalau mau kesini jangan kaya aku ya. Cuma pake sendal jepit. Karena asli naiknya lumayan jauh dan tinggi buat tante-tante macem eike. Mungkin sekitar 1 jam (dengan kecepatan ala tante-tante).

Yak naik terus sampai ujung atas sana sis!

Hati-hati licin berbatu

Tangga di awal aja

Lebih baik pakai sepatu trekking yang alasnya gak licin atau sepatu sendal buat naik gunung gitu. Pakai baju tipis karena panas dan pasti akan keringetan. Sekali ini aja bergaya ala olahragawan sejati walau sehari-hari gak pernah olahraga. Plisss.. jangan kaya aku. Udah pake sendal jepit, pake cardigan pulak. Tapi aku beneran rela se-rela-rela-nya demi pemandangan sebagus ini.

It’s the BEST VIEW I’ve ever seen in my entire life!!

Pulau Komodo

We’re arrived at the last jurassic park! Disini ada pilihan mau track yang short, medium atau long. Kita ambil yang short aja udah bisa liat Komodo kok. Karena sekalian mau liat pemandangan jadi kita putuskan ambil yang medium. Kalau disini JANGAN PERNAH berpikir untuk pisah dari grup dan sotoy jalan sendirian tanpa rombongan dan ranger. Salah-salah kaya turis asing kemarin yang digigit Komodo. Trust me they are FAST walau bentukannya kaya hewan purba yang gede dan berat. Rangernya udah ahli ambil foto loh, kita jadi kaya deket banget foto ama Komodo padahal jauh. Ya kelleus gue mau jadi makan siang Komodo, maaf lemak aku sedikit Kom, kamu pasti gak akan kenyang.

Pink Beach

Udah selesai terkagum-kagumnya? Ternyata belum. Pink Beach ini nggak kalah kerennya. Sebenernya pasirnya agak berwarna karena tercampur serpihan coral merah. Ada yang nyebut Red Beach, tapi aku tentu saja lebih suka nama Pink Beach. Disini kita bisa snorkeling, dan Masya Allah kerennyaaaa… baru berenang berapa meter aja karangnya udah warna warni banget. Kita bisa liat ikan warna kuning dan tosca berenang diatas coral merah. Temen aku cukup beruntung bisa berenang sama penyu laut. Aku buru-buru ke tempat dia tapi penyu-nya tapi udah gak ada huhu…


Pulau Kelor

Ini pulau terakhir yang kita kunjungi hari itu. Lagi-lagi view-nya keren, disini bisa snorkeling juga walau nggak sebagus di Pink beach. Hati-hati disini banyak ular laut dan bulu babi jadi aku cukup foto-foto aja πŸ˜€

Selesai sudah island hopping kita hari itu, tepat jam 5 sore kita udah kembali ke pelabuhan. Speed boat memang pilihan yang tepat kalau mau lebih cepat ke beberapa tempat. Kalau kapal yang lebih lambat kita bisa sampai ke pelabuhan malam hari.

Besoknya pagi-pagi sekali aku pulang lewat Denpasar, dan naik pesawat lebih kecil lagi.. tipe ATR, eng ing eng.. XD Kecepatannya separonya Bombardier, jadi agak lama nih. Tapi lagi-lagi Garuda jaminan aman terbang aku jadi agak tenang. Dari Labuan ke Denpasar harga tiketnya sekitar 800rb. Lalu lanjut Denpasar-Jakarta malem hari jadi sempet jalan-jalan sebentar di Bali.

I’ll be back Labuan Bajo!! Tapi kalau anak-anak udah agak besar, soalnya buat aku agak repot kalau liburan gaya ngebolang gini sama balita πŸ˜€ Yang jelas anak-anak harus banget kesini biar tau kalau negara mereka itu indah banget.

Share this post

2 replies on “Labuan Bajo : A National Treasure

Leave a Reply to Nila Cake Cancel reply

Your email address will not be published.